14 Juli 2019 - 06:05
Nasrullah: 13 Tahun Terakhir, Saya Semakin Percaya Israel Lebih Lemah dari Rumah Laba-laba

Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon Jumat malam (12/07) dalam wawancara dengan televisi al-Mayadeen yang bertepatan dengan 13 tahun Perang 33 Hari, menjelaskan dampak perang ini bagi Lebanon dan kawasan.

(ABNA24.com) Dimensi terpenting dari pernyataan Sayid Hassan Nasrullah dalam wawancara dengan al-Mayadeen adalah penekanan pada peningkatan pencegahan dan ofensif poros Muqawama selama 13 tahun terakhir.

Apa yang terjadi di Lebanon selama 13 tahun terakhir adalah pembentukan keamanan masyarakat internal dengan adanya Hizbullah. Sementara negara-negara Arab, terutama Arab Saudi, menggantungkan keamanannya kepada Amerika Serikat dan karenanya membayar banyak uang tebusan ke Washington, tapi Lebanon, dengan adanya Hizbullah, tidak bergantung pada kekuatan asing untuk menyediakan keamannnya.

Sekjen Hizbullah mengatakan, "Selama 13 tahun ini, Lebanon berada dalam keadaan aman. Keamanan yang ada di Lebanon diwujudkan sendiri oleh warga Lebanon."

Di bagian lain dari wawancaranya, Sekjen Hizbullah menekankan, "Jika tidak ada Hizbullah, satu dari elemen kekuatan Lebanon juga tidak ada."

Memang, apa yang menjamin keamanan Lebanon adalah keberadaan Hizbullah di negara ini dan penguatan kemampuannya.

Alasan utama permusuhan Amerika Serikat terhadap Hizbullah adalah bahwa di satu sisi, Hizbullah telah memblokir ketergantungan Lebanon pada Washington, dan di sisi lain, kekuatan Hizbullah telah menjadi sumber kekhawatiran dan ancaman terhadap Israel, sesuatu yang diakui Amerika Serikat. Mengingat hal ini, Amerika Serikat bukan hanya memasukkan Hizbullah dalam daftar sanksi, tetapi juga sejumlah anggota parlemen Lebanon yang berafiliasi dengan Hizbullah.

Dalam hal ini, Sayid Hassan Nasrullah mengatakan, "Hizbullah telah masuk dalam daftar sanksi AS sejak 1980-an. Muqawama menjadi lebih kuat meskipun ada sanksi. Masalah baru adalah menempatkan anggota parlemen dalam daftar sanksi, dan ini menghina DPR dan pemerintah Lebanon."

Poin ketiga dalam kata-kata Sayid Hassan Nasrullah tadi malam tentang perubahan konstelasi kekuatan di kawasan yang menguntungkan poros Muqawama. Saat ini, poros perlawanan di wilayah Asia Barat berada dalam posisi di mana tidak ada kekuatan yang dapat menyerang pemain dari poros ini.

Sekaitan dengan hal ini, Sayid Hassan Nasrullah menyebutkan beberapa poin. Pertama, Muqawama selama 13 tahun terakhir telah mengalami kemajuan luas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dan itulah yang diakui Israel. Kedua, pada tahun 2006, di Bint Jbeil, saya telah mengatakan bahwa Zionis Israel lebih lemah dari rumah laba-laba, dan selama 13 tahun terakhir, kepercayaan saya pada kata itu telah meningkat.

Hal lain yang dibicarakan Sekjen Hizbullah adalah penekanan pada kegagalan rencana Kesepakatan Abad. Sayid Hassan Nasrullah menyinggung pengakuan implisit Jerad Kushner akan kegagalah Konferensi Ekonomi Manama, Bahrain seraya mengatakan, "Kami percaya bahwa Kesepakatan Abad akan gagal. Anda tidak akan pernah menemukan seorang warga Palestina baik itu Muslim atau Kristen, atau bahkan Arab, yang akan menyerahkan tempat-tempat suci Islam dan Kristen kepada Zionis Israel. Di sinilah titik kelemahan asli dari Kesepakatan Abad."

Ketegangan Amerika Serikat dengan Iran adalah fokus lain dari pembicaraan Sayid Hassan Nasrallah dalam wawancaranya dengan al-Mayadeen. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dan sekutunya telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sekjen Hizbullah, Lebanon meyakini bahwa ketegangan ini tidak akan menyebabkan terjadi perang. Karena Iran tidak pernah memulai perang dengan Amerika Serikat dan Amerika sendiri tahu bahwa perang dengan Iran akan sangat mahal.

Salah satu biaya perang ini menurut Nasrullah, "Perang terhadap Iran akan memulai perang di selurh kawasan." Perang di seluruh kawasan berarti seluruh sekutu dan pangkalan Amerika Serikat di kawasan akan menjadi target.

Menurut Sayid Hassan Nasrullah, Amerika Serikat lebih mengkhawatirkan Zionis Israel lebih dari yang lain dan keamanan sekutu Arab bagi Washington kepentingannya masih berada di bawah Zionis Israel. Mengenai hal ini, Sayid Hassan Nasrullah mengatakan, "Ancaman untuk menghancurkan Arab Saudi bukan untuk mencegah perang terhadap Iran, tapi sesuatu yang dapat mencegah Amerika Serikat memasuki perang adalah seluruh pasukan dan kepentingannya serta Zionis Israel berada dalam target serangan Iran."



/129